Pendahuluan: Relational Turn dalam Pragmatik
Dalam beberapa dekade terakhir, kajian pragmatik telah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan dari fokus pada makna literal tuturan menuju pemahaman bagaimana bahasa digunakan untuk membangun dan memelihara hubungan antarpribadi. Pergeseran ini, yang dikenal sebagai relational turn, menempatkan hubungan sosial sebagai pusat analisis komunikasi. Dua teori yang menjadi fondasi penting dalam pendekatan ini adalah teori Relational Work yang dikembangkan oleh Locher dan Watts serta teori Relational dari Arundale. Kedua teori ini sama-sama melihat komunikasi sebagai upaya membangun hubungan, tetapi memiliki fokus yang berbeda. Teori Relational Work dari Locher dan Watts berfokus pada bagaimana norma sosial dan usaha individu membentuk komunikasi yang dianggap pantas atau tidak, sementara teori Relational dari Arundale menekankan bagaimana hubungan dan muka (face) dibangun secara bersama-sama dalam interaksi melalui dialektika keterhubungan dan keterpisahan (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2005, 2008).
Persamaan Utama: Fokus pada Hubungan dan Relasi
Persamaan mendasar antara kedua teori ini terletak pada pengakuan bahwa tujuan utama komunikasi bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan juga untuk membangun, memelihara, dan menegosiasikan hubungan antarpribadi. Locher dan Watts (2005) mendefinisikan relational work sebagai "usaha yang diinvestasikan individu dalam menegosiasikan hubungan dengan orang lain," yang setara dengan tingkat komunikasi interpersonal dalam kerangka Halliday. Senada dengan itu, Arundale (2010) menggunakan istilah "relasional" untuk mengindeks fenomena dyadic yang muncul secara dinamis dalam komunikasi antarpribadi. Dengan demikian, kedua teori ini berada di garis depan relational turn di bidang pragmatik yang menekankan bahwa hubungan merupakan locus utama organisasi sosial dan karenanya menjadi fokus utama dalam pragmatik (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2005).
Persamaan Kedua: Pandangan Dinamis tentang Muka (Face)
Kedua teori ini juga sepakat dalam menolak pandangan tradisional tentang face sebagai atribut pribadi yang statis sebagaimana dikemukakan oleh Brown dan Levinson. Locher dan Watts, yang mendasarkan pemikiran mereka pada Goffman, memandang face sebagai "topeng" yang dipinjam untuk durasi pertunjukan tertentu dan dapat berubah sesuai situasi. Mereka berargumen bahwa face tidak secara inheren melekat pada individu, melainkan dikonstruksi secara diskursif dalam setiap interaksi sehingga seseorang dapat memiliki berbagai bentuk face bahkan dalam satu interaksi. Sejalan dengan itu, Arundale (2010) mendefinisikan face sebagai pemahaman partisipan mengenai keterhubungan dan keterpisahan relasional yang dikonstitusikan secara bersama dalam interaksi. Dengan demikian, kedua teori memandang face sebagai konstruksi sosial yang dinegosiasikan secara dinamis (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2005, 2008).
Persamaan Ketiga: Pendekatan Diskursif dan First-Order
Baik teori Relational Work maupun Face Constituting Theory (FCT) menganut pendekatan diskursif yang menganalisis data interaksi nyata untuk memahami bagaimana partisipan mengevaluasi perilaku sebagai sopan, tidak sopan, atau pantas. Locher dan Watts (2005) secara eksplisit mendasarkan pendekatan mereka pada konsep first-order politeness, yaitu pemahaman kesopanan sebagaimana dipersepsikan oleh para partisipan sendiri. Mereka menegaskan bahwa tidak ada bentuk linguistik yang secara inheren sopan karena makna kesopanan bergantung pada konteks interaksi. Demikian pula, Arundale (2010) mengembangkan teorinya dari perspektif partisipan yang konsisten dengan etnometodologi dan analisis percakapan. Kedua pendekatan tersebut sama-sama menempatkan evaluasi partisipan sebagai pusat analisis pragmatik (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2005).
Perbedaan Fokus Analisis: Norma vs. Dialektika
Perbedaan utama kedua teori terletak pada fokus analisisnya. Teori Relational Work dari Locher dan Watts menitikberatkan pada bagaimana norma sosial, yang dikonsepsikan sebagai frames dan habitus, digunakan untuk mengevaluasi perilaku komunikasi sebagai pantas atau tidak pantas. Sebaliknya, teori Arundale berfokus pada bagaimana hubungan dan face dibangun secara bersama melalui dialektika antara keterhubungan (connection) dan keterpisahan (separation). Dalam perspektif Arundale, face bukan sekadar hasil evaluasi norma, tetapi merupakan fenomena relasional yang muncul dari interaksi itu sendiri (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2008).

.png)