Relational Theory yang dikembangkan oleh Arundale menempatkan hubungan interpersonal sebagai pusat dari proses komunikasi. Berbeda dari pendekatan tradisional yang melihat komunikasi hanya sebagai pertukaran pesan antarindividu, teori ini menekankan bahwa identitas, makna, dan hubungan sosial dibangun secara ko-konstitutif melalui interaksi. Dalam pandangan ini, setiap ujaran bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk kedekatan, jarak, solidaritas, maupun perbedaan status antara partisipan komunikasi (Arundale, 2010). Oleh karena itu, komunikasi dipahami sebagai proses dinamis yang terus membentuk dan dibentuk oleh relasi sosial.
Salah satu konsep utama dalam Relational Theory adalah dialektika antara connectedness dan separateness. Connectedness merujuk pada upaya individu membangun kedekatan, afiliasi, dan rasa kebersamaan dengan orang lain, sedangkan separateness menunjukkan kebutuhan untuk mempertahankan otonomi, identitas pribadi, dan batas individual. Kedua dimensi ini selalu hadir secara simultan dalam interaksi sehari-hari, sehingga komunikasi menjadi arena negosiasi antara kebutuhan untuk dekat dan kebutuhan untuk mandiri (Arundale, 2010). Dengan demikian, hubungan sosial tidak pernah statis, melainkan selalu dinegosiasikan dari waktu ke waktu.
Dalam konteks pendidikan, Relational Theory sangat relevan untuk memahami dinamika komunikasi di kelas. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya berfungsi menyampaikan materi, tetapi juga membangun iklim relasional yang dapat memengaruhi motivasi, partisipasi, dan kepercayaan diri siswa. Misalnya, guru yang memberikan respons empatik dan menghargai kontribusi siswa cenderung memperkuat connectedness, sementara sikap terlalu otoriter dapat memperbesar separateness dan jarak psikologis antara guru dan siswa (Arundale, 2010). Oleh sebab itu, kualitas relasi di kelas menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran.
Sementara itu, Rapport Management Theory yang dikembangkan oleh Spencer-Oatey berfokus pada bagaimana individu mengelola keharmonisan hubungan sosial dalam interaksi. Teori ini memperluas konsep kesantunan (politeness) dengan menekankan tiga komponen utama, yaitu face sensitivities, sociality rights and obligations, dan interactional goals. Face sensitivities berkaitan dengan kebutuhan seseorang untuk dihargai dan diakui, sociality rights merujuk pada harapan tentang perlakuan yang adil dan pantas, sedangkan interactional goals menyangkut tujuan yang ingin dicapai dalam komunikasi (Spencer-Oatey, 2008).
Rapport Management Theory sangat berguna dalam menjelaskan mengapa suatu interaksi dapat berjalan harmonis atau justru menimbulkan konflik. Ketika kebutuhan face dihormati dan hak sosial dipenuhi, hubungan cenderung berkembang positif. Sebaliknya, kritik yang mempermalukan, pengabaian kontribusi lawan bicara, atau perlakuan tidak adil dapat merusak rapport. Dalam konteks lintas budaya, teori ini juga penting karena norma mengenai penghormatan, hierarki, dan kesopanan berbeda antarbudaya, sehingga strategi komunikasi perlu disesuaikan dengan konteks sosial tertentu (Spencer-Oatey, 2008).
Jika dibandingkan, Relational Theory dan Rapport Management Theory memiliki titik temu dalam perhatian terhadap hubungan interpersonal, tetapi keduanya memiliki fokus berbeda. Relational Theory menyoroti bagaimana hubungan dibentuk secara interaksional melalui negosiasi kedekatan dan jarak, sedangkan Rapport Management Theory lebih menekankan strategi menjaga keharmonisan dan mengelola ancaman terhadap hubungan. Dengan kata lain, teori Arundale lebih bersifat ontologis dan prosesual, sedangkan teori Spencer-Oatey lebih aplikatif dalam menjelaskan praktik komunikasi sehari-hari (Arundale, 2010; Spencer-Oatey, 2008).
Dalam penelitian pragmatik dan pendidikan bahasa, kedua teori ini dapat dikombinasikan untuk menganalisis dinamika relasional dalam diskusi kelas. Relational Theory membantu menjelaskan bagaimana identitas sosial guru dan siswa dinegosiasikan selama interaksi, sementara Rapport Management Theory menjelaskan strategi linguistik yang digunakan untuk menjaga rasa hormat, kenyamanan, dan kerja sama. Kombinasi keduanya memberikan kerangka yang kuat untuk memahami bagaimana komunikasi yang efektif dapat meningkatkan partisipasi siswa, kepercayaan diri berbicara, dan suasana belajar yang suportif (Arundale, 2010; Spencer-Oatey, 2008).
References
Arundale, R. B. (2010). Constituting face in conversation: Face, facework, and interactional achievement. Journal of Pragmatics, 42(8), 2078–2105. https://doi.org/10.1016/j.pragma.2009.12.021
Spencer-Oatey, H. (2008). Culturally speaking: Culture, communication and politeness theory (2nd ed.). Continuum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar