Selasa, 23 Juni 2026

Teori RELATIONAL WORK punya Locher and Watts Versus Arundale (2010)

 Pendahuluan: Relational Turn dalam Pragmatik

Dalam beberapa dekade terakhir, kajian pragmatik telah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan dari fokus pada makna literal tuturan menuju pemahaman bagaimana bahasa digunakan untuk membangun dan memelihara hubungan antarpribadi. Pergeseran ini, yang dikenal sebagai relational turn, menempatkan hubungan sosial sebagai pusat analisis komunikasi. Dua teori yang menjadi fondasi penting dalam pendekatan ini adalah teori Relational Work yang dikembangkan oleh Locher dan Watts serta teori Relational dari Arundale. Kedua teori ini sama-sama melihat komunikasi sebagai upaya membangun hubungan, tetapi memiliki fokus yang berbeda. Teori Relational Work dari Locher dan Watts berfokus pada bagaimana norma sosial dan usaha individu membentuk komunikasi yang dianggap pantas atau tidak, sementara teori Relational dari Arundale menekankan bagaimana hubungan dan muka (face) dibangun secara bersama-sama dalam interaksi melalui dialektika keterhubungan dan keterpisahan (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2005, 2008).


Persamaan Utama: Fokus pada Hubungan dan Relasi

Persamaan mendasar antara kedua teori ini terletak pada pengakuan bahwa tujuan utama komunikasi bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan juga untuk membangun, memelihara, dan menegosiasikan hubungan antarpribadi. Locher dan Watts (2005) mendefinisikan relational work sebagai "usaha yang diinvestasikan individu dalam menegosiasikan hubungan dengan orang lain," yang setara dengan tingkat komunikasi interpersonal dalam kerangka Halliday. Senada dengan itu, Arundale (2010) menggunakan istilah "relasional" untuk mengindeks fenomena dyadic yang muncul secara dinamis dalam komunikasi antarpribadi. Dengan demikian, kedua teori ini berada di garis depan relational turn di bidang pragmatik yang menekankan bahwa hubungan merupakan locus utama organisasi sosial dan karenanya menjadi fokus utama dalam pragmatik (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2005).


Persamaan Kedua: Pandangan Dinamis tentang Muka (Face)

Kedua teori ini juga sepakat dalam menolak pandangan tradisional tentang face sebagai atribut pribadi yang statis sebagaimana dikemukakan oleh Brown dan Levinson. Locher dan Watts, yang mendasarkan pemikiran mereka pada Goffman, memandang face sebagai "topeng" yang dipinjam untuk durasi pertunjukan tertentu dan dapat berubah sesuai situasi. Mereka berargumen bahwa face tidak secara inheren melekat pada individu, melainkan dikonstruksi secara diskursif dalam setiap interaksi sehingga seseorang dapat memiliki berbagai bentuk face bahkan dalam satu interaksi. Sejalan dengan itu, Arundale (2010) mendefinisikan face sebagai pemahaman partisipan mengenai keterhubungan dan keterpisahan relasional yang dikonstitusikan secara bersama dalam interaksi. Dengan demikian, kedua teori memandang face sebagai konstruksi sosial yang dinegosiasikan secara dinamis (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2005, 2008).


Persamaan Ketiga: Pendekatan Diskursif dan First-Order

Baik teori Relational Work maupun Face Constituting Theory (FCT) menganut pendekatan diskursif yang menganalisis data interaksi nyata untuk memahami bagaimana partisipan mengevaluasi perilaku sebagai sopan, tidak sopan, atau pantas. Locher dan Watts (2005) secara eksplisit mendasarkan pendekatan mereka pada konsep first-order politeness, yaitu pemahaman kesopanan sebagaimana dipersepsikan oleh para partisipan sendiri. Mereka menegaskan bahwa tidak ada bentuk linguistik yang secara inheren sopan karena makna kesopanan bergantung pada konteks interaksi. Demikian pula, Arundale (2010) mengembangkan teorinya dari perspektif partisipan yang konsisten dengan etnometodologi dan analisis percakapan. Kedua pendekatan tersebut sama-sama menempatkan evaluasi partisipan sebagai pusat analisis pragmatik (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2005).


Perbedaan Fokus Analisis: Norma vs. Dialektika

Perbedaan utama kedua teori terletak pada fokus analisisnya. Teori Relational Work dari Locher dan Watts menitikberatkan pada bagaimana norma sosial, yang dikonsepsikan sebagai frames dan habitus, digunakan untuk mengevaluasi perilaku komunikasi sebagai pantas atau tidak pantas. Sebaliknya, teori Arundale berfokus pada bagaimana hubungan dan face dibangun secara bersama melalui dialektika antara keterhubungan (connection) dan keterpisahan (separation). Dalam perspektif Arundale, face bukan sekadar hasil evaluasi norma, tetapi merupakan fenomena relasional yang muncul dari interaksi itu sendiri (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2008).


Perbedaan Konsep Kunci: Politic Behavior vs. Dialectic of Connectedness/Separateness

Dalam teori Relational Work, konsep sentralnya adalah politic behavior, yaitu perilaku yang dianggap sesuai dengan norma sosial sehingga tidak menarik perhatian karena dipandang wajar. Sebaliknya, perilaku yang menyimpang dari norma akan menjadi marked behavior. Locher dan Watts juga membedakan perilaku yang sekadar pantas dengan perilaku yang benar-benar sopan sebagai bentuk kelebihan (surplus) dari norma. Di sisi lain, Arundale mengembangkan konsep dialektika connectedness dan separateness, yang memandang hubungan sebagai hasil keseimbangan dinamis antara kebutuhan untuk terhubung dan mempertahankan otonomi. Selain itu, konsep interactional achievement menegaskan bahwa face merupakan pencapaian bersama para partisipan dalam interaksi (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2005, 2008).


Perbedaan Landasan Teoritis: Bourdieu/Goffman vs. Conversation Analysis/Dialectics

Landasan teoritis kedua pendekatan juga berbeda. Locher dan Watts memadukan konsep habitus dari Bourdieu dengan konsep face dari Goffman untuk menjelaskan bagaimana norma sosial diinternalisasi dan bagaimana citra diri diproyeksikan dalam interaksi. Sebaliknya, Arundale mengembangkan teorinya berdasarkan Analisis Percakapan (Conversation Analysis) dan Teori Dialektika Relasional. Ia mengajukan Conjoint Co-constituting Model of Communication yang memandang makna, tindakan, dan face sebagai pencapaian sosial yang terbentuk melalui proses interaksi secara berurutan (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2008).


Perbedaan dalam Konseptualisasi Relasi: Masker vs. Pencapaian Interaksional

Meskipun sama-sama menolak pandangan face sebagai atribut statis, kedua teori memiliki konseptualisasi yang berbeda. Locher dan Watts memandang face sebagai "topeng" yang dapat berubah sesuai konteks interaksi sehingga individu dapat memiliki berbagai identitas yang diproyeksikan dalam situasi yang berbeda. Sebaliknya, Arundale menempatkan face sebagai milik bersama (our face) yang muncul dalam hubungan dyadik. Dengan demikian, face bukan lagi dipahami sebagai milik individu, melainkan sebagai fenomena relasional yang hanya dapat dipahami melalui interaksi antarpartisipan (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2005).


Konseptualisasi Norma dan Evaluasi: Internal vs. Interaksional

Dalam teori Relational Work, norma dipandang sebagai hasil internalisasi pengalaman sosial melalui Community of Practice sehingga evaluasi terhadap perilaku muncul ketika norma tersebut dilanggar. Sebaliknya, Arundale melihat norma sebagai sesuatu yang terus-menerus dikonstruksi kembali melalui praktik interaksi. Oleh karena itu, evaluasi tidak hanya berasal dari pengetahuan individu, tetapi juga dari proses negosiasi makna yang berlangsung secara bersama selama percakapan (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2008).


Kontinum Perilaku dalam Relational Work vs. Pencapaian Face dalam FCT

Locher dan Watts mengembangkan model kontinum perilaku yang mencakup perilaku tidak sopan, perilaku pantas yang tidak ditandai, perilaku sopan, hingga perilaku yang terlalu sopan. Model ini memungkinkan analisis yang lebih rinci mengenai bagaimana perilaku dievaluasi oleh partisipan sesuai konteks sosial. Sebaliknya, Arundale tidak menggunakan model kontinum, melainkan menekankan bagaimana face dicapai melalui proses interaksional antara pembicara dan pendengar dalam urutan percakapan (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2005, 2008).


Implikasi Analitis: Peta vs. Proses

Secara sederhana, teori Locher dan Watts dapat dianalogikan sebagai peta yang menunjukkan batas-batas perilaku yang dianggap pantas dalam suatu komunitas, sedangkan teori Arundale lebih menyerupai panduan untuk memahami proses pembentukan hubungan yang berlangsung secara dinamis selama interaksi. Pendekatan pertama sangat berguna untuk mengidentifikasi norma sosial suatu komunitas, sedangkan pendekatan kedua lebih tepat digunakan untuk menganalisis bagaimana hubungan dibangun secara real time melalui percakapan (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2008; Spencer-Oatey, 2013).


Kesimpulan: Dua Pendekatan yang Saling Melengkapi

Meskipun memiliki fokus analisis dan landasan teoretis yang berbeda, teori Relational Work dan teori Relational Arundale saling melengkapi dalam menjelaskan kompleksitas komunikasi interpersonal. Relational Work memberikan kerangka yang kuat untuk memahami norma sosial dan evaluasi perilaku komunikasi, sedangkan teori Arundale menawarkan penjelasan yang lebih mendalam mengenai bagaimana hubungan dan face dibangun secara interaksional melalui proses pencapaian bersama. Penggabungan kedua perspektif tersebut memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai penggunaan bahasa dalam membangun, memelihara, dan menegosiasikan hubungan sosial (Arundale, 2010; Izadi, 2017; Locher & Watts, 2005, 2008; Spencer-Oatey, 2013).

References

Arundale, R. B. (2010). Constituting face in conversation: Face, facework, and interactional achievement. Journal of Pragmatics, 42(8), 2078–2105. 

Izadi, A. (2017). Culture-generality and culture-specificity of face: Insights from argumentative talk in Iranian dissertation defenses. Pragmatics and Society, 8(2), 208–230. 

Locher, M. A., & Watts, R. J. (2005). Politeness theory and relational work. Journal of Politeness Research, 1(1), 9–33. 

Locher, M. A., & Watts, R. J. (2008). Relational work and impoliteness: Negotiating norms of linguistic behaviour. In D. Bousfield & M. A. Locher (Eds.), Impoliteness in Language: Studies on its Interplay with Power in Theory and Practice (pp. 77–99). Mouton de Gruyter. 

Spencer-Oatey, H. (2013). Relating at work: Facets, dialectics and face. Journal of Pragmatics, 58, 121–137. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar