Jumat, 05 Juni 2026

Timeline of Cyberpragmatics (Im)politeness Research (2016–2026)

 


Antara tahun 2016 dan 2017, fokus siberpragmatik (cyberpragmatics) beralih dari yang awalnya mengabaikan komunikasi termediasi komputer (computer-mediated communication) sebagai media yang kurang efektif, menjadi eksplorasi tentang bagaimana arsitektur platform secara aktif membentuk interaksi daring. Para pakar mulai mengintegrasikan teori manajemen rapor (rapport management theory) dari Spencer-Oatey untuk menganalisis bagaimana fitur-fitur teknis, seperti laporan keterbacaan (read receipts) dan indikator sedang mengetik (typing indicators), berfungsi sebagai isyarat non-verbal yang memengaruhi muka relasional (relational face).

Dari tahun 2018 hingga 2019, adopsi massal aplikasi pesan instan seperti WhatsApp di lembaga-lembaga hierarkis, khususnya di wilayah Global South, memicu penelitian empiris yang intens. Berbagai studi menyoroti seringnya terjadi pengabaian rapor (rapport neglect) dan penantangan rapor (rapport challenge) dalam aliran pesan teks antara mahasiswa dan dosen. Fenomena ini menunjukkan bahwa singkatan teks dan laras bahasa (register) informal sering kali meregangkan standar tradisional kesantunan berbahasa.

Kemunculan pandemi COVID-19 antara tahun 2020 dan 2022 memaksa interaksi profesional dan akademik global beralih ke platform obrolan seperti Slack dan Teams, sehingga kohesi relasional daring menjadi sangat vital. Para peneliti sangat bergantung pada teori pembentukan muka (face constituting theory) dari Arundale untuk mengamati bagaimana tim kerja jarak jauh menggunakan emoji sebagai alat mitigasi penting demi menstabilkan hubungan dan mengatasi tekanan kognitif akibat ambiguitas berbasis teks.

Sepanjang tahun 2023 dan 2024, penelitian siberpragmatik mencapai sintesis multi-teoretis dengan menggabungkan model kesantunan klasik dengan penanda digital modern. Para pakar berhasil memetakan honorifik (sebutan kehormatan) lokal dan ungkapan keagamaan langsung ke dalam ranah ilokusional (illocutionary domain) dan ranah wacana (discourse domain) milik Spencer-Oatey. Hal ini membuktikan bahwa kesantunan digital sangat terikat dengan konteks budaya yang diadaptasi untuk obrolan mikro yang cepat.

Pada tahun 2025 dan 2026, integrasi luas dari teks prediktif (predictive text), balasan otomatis pintar (smart auto-replies), dan agen AI generatif mendorong siberpragmatik ke dalam paradigma baru, yaitu pengelolaan muka algoritmik (algorithmic facework). Para peneliti saat ini menggunakan kerangka kerja Arundale untuk menganalisis dinamika triadik (tiga arah) yang baru ini, sekaligus mempertanyakan apakah respons otomatis termediasi AI dapat menghasilkan hubungan relasional yang tulus antarmanusia.

Saat menganalisis lingkungan digital ini, teori pembentukan muka Arundale menawarkan sudut pandang mikro-analisis yang khusus. Alih-alih memperlakukan muka sebagai milik individu, teori ini berfokus pada hubungan diada (dyad), yang menjelaskan bagaimana hubungan atau jarak relasional dibangun secara bersama-sama melalui giliran bertutur (chat turns) yang berurutan, serta bagaimana jeda respons (response lags) mengubah interpretasi bersama.

Sebaliknya, teori manajemen rapor Spencer-Oatey menyediakan kerangka kerja makro-analisis yang dirancang untuk mengategorikan strategi sosial dan atribut identitas tertentu. Model ini melihat perilaku obrolan melalui ranah-ranah yang saling terhubung—seperti ranah gaya bahasa (stylistic) dan non-verbal—untuk mengevaluasi bagaimana para peserta interaksi melindungi atau melanggar hak-hak sosialitas (sociality rights) serta tujuan interaksional yang telah disepakati.

Kedua kerangka kerja fundamental ini bersinggungan langsung pada "aksioma niat" digital, yang menyatakan bahwa ketidaksantunan daring jarang sekali menjadi peristiwa teks yang terisolasi. Karena saluran berbasis teks saja sangat memangkas konteks fisik, ancaman percakapan biasanya baru disadari secara retrospektif berdasarkan cara penerima merespons pesan tersebut. Hal ini membuktikan bahwa muka digital merupakan sebuah konstruksi kolaboratif.

Pada akhirnya, beasiswa siberpragmatik selama satu dekade terakhir menunjukkan bahwa seiring berkembangnya teknologi obrolan, adaptasi manusia tetap mampu mengimbanginya dengan memberikan bobot relasional yang kompleks pada isyarat linguistik yang minimal. Baik saat menghadapi hierarki institusional yang kaku pada akhir 2010-an maupun ruang kerja AI yang otomatis di tahun 2026, mengelola rapor daring tetap menjadi proses negosiasi interaktif yang dinamis.

Daftar bacaan mendasar untuk evolusi teoretis ini mencakup teks-teks penting dari Arundale (2010) dan Spencer-Oatey (2008) tentang mekanika interpersonal, di samping studi relasional khusus platform oleh Locher et al. (2015) dan Budiwati (2019). Trajektori ini dilengkapi oleh sintesis empiris modern, terutama profil komunikasi mahasiswa-dosen oleh Risdianto et al. (2023) dan kerangka kerja pragmatik komprehensif dari Xiang et al. (2024).

Senin, 01 Juni 2026

Criticism on Brown & Levinson's theories of Politeness

One of the major issues surrounding politeness and impoliteness theories concerns their universality. Brown and Levinson’s (1987) framework has been criticized for being heavily grounded in Western individualistic values, particularly the notion of face as an individual possession. Scholars have argued that the theory does not adequately account for collectivist cultures where social harmony, hierarchy, and group identity may be more significant than individual face needs (Matsumoto, 1988; Ide, 1989). Consequently, what is considered polite in one culture may be interpreted differently in another, making the application of universal politeness strategies problematic across diverse sociocultural contexts (Eelen, 2001; Watts, 2003).

Another challenge concerns the interpretation of speaker intention. While politeness theories often assume that speakers consciously employ strategies to mitigate face-threatening acts, researchers have pointed out that hearers may interpret utterances differently from what speakers intend (Haugh, 2013). Similarly, impoliteness cannot always be identified solely through linguistic forms because contextual factors, interpersonal relationships, institutional roles, and audience expectations significantly influence interpretation (Culpeper, 2011; Locher & Watts, 2005). This issue becomes particularly evident in institutional discourse, such as courtroom interactions, where directness may be interpreted as procedural necessity rather than impoliteness (Archer, 2008).

Recent developments in digital communication have further complicated the study of politeness and impoliteness. The emergence of cyberpragmatics, which examines language use in digitally mediated environments, demonstrates that online communication often operates under different pragmatic norms compared to face-to-face interactions (Yus, 2011). In online chats, social media platforms, and messaging applications, users frequently employ emojis, abbreviations, memes, GIFs, and multimodal resources to convey politeness, friendliness, disagreement, or criticism (Tagg, 2015; Herring, 2013). Consequently, the interpretation of politeness and impoliteness increasingly depends on digital literacy and shared online conventions rather than on linguistic expressions alone (Yus, 2011).

Within cyberpragmatics chats, politeness strategies can be realized through supportive comments, hedging devices, gratitude expressions, positive emojis, and inclusive language intended to maintain social solidarity among users (Darics, 2013; Graham, 2015). Conversely, impoliteness may emerge through flaming, trolling, cyberbullying, sarcasm, excessive capitalization, deliberate exclusion, or hostile comments designed to threaten another user's face (Hardaker, 2010; Culpeper, 2011). Unlike face-to-face communication, online interactions often involve anonymity and reduced accountability, which may encourage more direct and aggressive language use (Suler, 2004).

Furthermore, the boundary between politeness and impoliteness in online environments is often blurred because users rely on contextual cues that may be absent or ambiguous in text-based communication. A message intended as humor or friendly teasing may be interpreted as offensive or disrespectful by other participants, particularly when cultural backgrounds differ (Dynel, 2016; Yus, 2011). Therefore, the analysis of politeness and impoliteness in cyberpragmatics requires consideration of technological affordances, multimodal features, participant relationships, and platform-specific norms in addition to traditional pragmatic theories (Herring, 2013; Locher, 2010).

These theoretical and methodological debates indicate that politeness and impoliteness should not be viewed as fixed linguistic categories but rather as dynamic social practices that are continuously negotiated by participants across different communicative settings (Watts, 2003; Culpeper, 2011). Whether in courtroom discourse or cyberpragmatic interactions, judgments of politeness and impoliteness are shaped by contextual expectations, power relations, cultural norms, and communicative purposes. Therefore, contemporary studies increasingly advocate an integrative approach that combines traditional politeness theories with discourse analysis, sociocultural perspectives, and digital communication studies to better understand language behavior in modern societies (Locher & Watts, 2005; Haugh, 2013).

Kamis, 28 Mei 2026

Question: Apakah Ilmu Pragmatics Mengajarkan Kebohongan? Answer: read this article

 Ilmu pragmatics pada dasarnya tidak mengajarkan manusia untuk berbohong ketika berbicara dengan orang lain. Pragmatics justru mempelajari bagaimana makna dipahami berdasarkan konteks, situasi, tujuan komunikasi, dan hubungan sosial antara penutur dan lawan tutur. Dalam pragmatics, bahasa dipahami bukan hanya dari arti literal kata-kata, tetapi juga dari maksud tersembunyi, implikatur, dan strategi komunikasi yang digunakan dalam interaksi sosial. Menurut Grice (1975), komunikasi yang baik didasarkan pada Cooperative Principle, yaitu prinsip kerja sama agar percakapan berjalan efektif dan dapat dipahami oleh semua pihak. Prinsip ini terdiri atas empat maksim, yaitu maksim kuantitas, kualitas, relevansi, dan cara. Maksim kualitas secara khusus menekankan bahwa penutur seharusnya mengatakan sesuatu yang benar dan tidak memberikan informasi yang palsu atau tanpa bukti (Grice, 1975). Dengan demikian, secara teoretis pragmatics tidak mendukung kebohongan, melainkan mendorong komunikasi yang jujur dan kooperatif.

Namun, dalam praktik komunikasi sehari-hari, manusia tidak selalu berbicara secara literal atau sepenuhnya langsung. Kadang-kadang seseorang menyampaikan sesuatu secara tidak eksplisit demi menjaga hubungan sosial atau menghindari konflik. Di sinilah Politeness Principle menjadi penting. Leech (1983) menjelaskan bahwa kesantunan dalam komunikasi bertujuan menjaga keharmonisan sosial dan mengurangi ancaman terhadap “muka” (face) lawan bicara. Misalnya, ketika seseorang berkata “Mungkin ide itu bisa dipertimbangkan lagi” alih-alih mengatakan “Ide itu buruk,” penutur sebenarnya tidak sedang berbohong, tetapi menggunakan strategi kesantunan untuk mengurangi dampak negatif ujarannya. Dalam konteks ini, pragmatics mengajarkan sensitivitas sosial dan strategi komunikasi yang sopan, bukan manipulasi atau kebohongan.

Selain itu, pragmatics mengenal konsep implicature atau makna tersirat. Dalam banyak situasi, penutur sengaja tidak mengatakan sesuatu secara langsung agar lawan tutur dapat menyimpulkan sendiri maksud yang diinginkan. Sebagai contoh, ketika seseorang berkata, “Ruangan ini agak panas,” ia mungkin sebenarnya meminta orang lain menyalakan kipas atau membuka jendela. Menurut Yule (1996), implikatur bukanlah bentuk kebohongan, melainkan strategi pragmatik yang memungkinkan komunikasi berlangsung lebih efisien dan lebih halus secara sosial. Dengan kata lain, pragmatics mengakui bahwa komunikasi manusia sering bersifat tidak langsung, tetapi ketidaklangsungan tersebut tidak identik dengan kebohongan.

Di sisi lain, ada situasi tertentu ketika seseorang tampak “melanggar” Cooperative Principle demi tujuan kesantunan. Contohnya, seseorang mungkin memuji masakan temannya meskipun rasanya biasa saja agar tidak melukai perasaan temannya. Dalam pragmatics, tindakan seperti ini sering dipahami sebagai kompromi antara prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan. Brown dan Levinson (1987) menjelaskan bahwa manusia cenderung menjaga hubungan interpersonal melalui strategi kesantunan positif dan negatif. Oleh karena itu, dalam komunikasi sosial terkadang orang memilih ungkapan yang lebih halus atau diplomatis daripada mengatakan fakta secara kasar dan langsung. Akan tetapi, hal ini berbeda dengan kebohongan yang bertujuan menipu atau merugikan orang lain.

Secara keseluruhan, pragmatics bukanlah ilmu yang mengajarkan kebohongan, melainkan ilmu yang mempelajari bagaimana manusia menggunakan bahasa secara efektif, sopan, dan kontekstual dalam kehidupan sosial. Cooperative Principle menekankan pentingnya kejujuran, relevansi, dan kejelasan dalam komunikasi (Grice, 1975), sedangkan Politeness Principle menekankan pentingnya menjaga hubungan sosial dan menghormati perasaan orang lain (Leech, 1983). Dalam praktiknya, kedua prinsip ini sering bekerja bersama untuk menciptakan komunikasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga harmonis. Oleh sebab itu, pragmatics lebih tepat dipahami sebagai ilmu tentang kebijaksanaan berbahasa daripada ilmu tentang kebohongan.

References

Brown, P., & Levinson, S. C. (1987). Politeness: Some universals in language usage. Cambridge University Press.

Grice, H. P. (1975). Logic and conversation. In P. Cole & J. Morgan (Eds.), Syntax and semantics: Speech acts (Vol. 3). Academic Press.

Leech, G. N. (1983). Principles of pragmatics. Longman.

Yule, G. (1996). Pragmatics. Oxford University Press.

Current research on Cyberpragmatics

Cyberpragmatics has become an important area in contemporary linguistic studies because digital communication has transformed the ways people negotiate meaning, politeness, and social relationships in online interaction. The rise of social media, online gaming, WhatsApp communication, and AI-mediated interaction has created new forms of language behavior that differ from traditional face-to-face communication. Graham and Hardaker (2017) explain that mediated communication changes interactional dynamics because users communicate through asynchronous, anonymous, and multimodal environments that often weaken conventional social constraints. As a result, politeness and impoliteness are continuously renegotiated in digital spaces where users rely not only on words but also on emojis, stickers, memes, and visual symbols to convey interpersonal meaning.

The issue of impoliteness in online communication has become one of the most debated topics in cyberpragmatics. Culpeper and colleagues (2025) argue that impoliteness online is often reciprocal because hostile comments tend to provoke equally hostile responses. This phenomenon is known as “impoliteness reciprocity,” where digital interactions escalate into verbal conflicts through sarcasm, mock politeness, insults, and emotional retaliation. Unlike face-to-face communication, online environments allow users to express aggression more openly because physical presence and immediate social consequences are absent. Consequently, cyberpragmatics researchers increasingly investigate how online discourse contributes to hate speech, cyberbullying, cancel culture, and toxic communication practices.

Another important discussion concerns politeness strategies in educational communication. Risdianto et al. (2023) found that students frequently employ politeness strategies when communicating with lecturers through WhatsApp and email. The study revealed that students often use greetings, apologies, gratitude expressions, and religious expressions to maintain respectful academic relationships. However, some students unintentionally produce impolite utterances because they lack awareness of digital pragmatic norms. This finding demonstrates that online communication requires specific pragmatic competence because written digital interaction does not always convey tone, emotion, or intention clearly. Therefore, cyberpragmatic competence has become increasingly essential in academic communication.

Research on Korean social networking services further demonstrates that politeness norms vary across cultures and digital platforms. Rhee (2023) explains that the concept of “face” in Asian digital culture has evolved due to online interaction and anonymous identities. Traditional politeness theories proposed by Brown and Levinson are often challenged because social media communication is more dynamic, public, and multimodal. Users may intentionally combine politeness and impoliteness strategies to create humor, irony, or social dominance. This shift has encouraged scholars to move from traditional pragmatics toward digital pragmatics and post-politeness theories that better explain interaction in online communities.

Political communication on social media also provides important insights into impoliteness practices. Groshek and Cutino (2016) found that mobile communication platforms such as Twitter intensify hostile interaction because features like mentions, retweets, and rapid responses facilitate discourse escalation. Political discussions online often become emotionally charged and polarized because users can instantly react to controversial issues. Scholars continue debating whether impoliteness is primarily caused by users themselves or by digital platform algorithms that encourage engagement through controversial content. This debate is highly relevant in contemporary discussions about online democracy, political polarization, and algorithmic communication.

The expansion of online gaming communities has introduced new forms of cyberpragmatic interaction. Research by Nensilanti et al. (2025) demonstrates that impoliteness in online game chats is not merely emotional aggression but also a strategic tool for establishing dominance, provoking opponents, and strengthening group solidarity. In competitive gaming environments, toxic speech may function as humor, identity construction, or social bonding among players. Consequently, scholars debate whether impoliteness should always be interpreted negatively or whether it can sometimes serve positive social functions within specific communities. This issue has become particularly important in discourse studies and digital masculinity research.

Jumat, 24 April 2026

Relational Theory (Arundale, 2010) dan Rapport Management Theory (Spencer-Oatey, 2008)

Relational Theory yang dikembangkan oleh Arundale menempatkan hubungan interpersonal sebagai pusat dari proses komunikasi. Berbeda dari pendekatan tradisional yang melihat komunikasi hanya sebagai pertukaran pesan antarindividu, teori ini menekankan bahwa identitas, makna, dan hubungan sosial dibangun secara ko-konstitutif melalui interaksi. Dalam pandangan ini, setiap ujaran bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk kedekatan, jarak, solidaritas, maupun perbedaan status antara partisipan komunikasi (Arundale, 2010). Oleh karena itu, komunikasi dipahami sebagai proses dinamis yang terus membentuk dan dibentuk oleh relasi sosial.

Salah satu konsep utama dalam Relational Theory adalah dialektika antara connectedness dan separateness. Connectedness merujuk pada upaya individu membangun kedekatan, afiliasi, dan rasa kebersamaan dengan orang lain, sedangkan separateness menunjukkan kebutuhan untuk mempertahankan otonomi, identitas pribadi, dan batas individual. Kedua dimensi ini selalu hadir secara simultan dalam interaksi sehari-hari, sehingga komunikasi menjadi arena negosiasi antara kebutuhan untuk dekat dan kebutuhan untuk mandiri (Arundale, 2010). Dengan demikian, hubungan sosial tidak pernah statis, melainkan selalu dinegosiasikan dari waktu ke waktu.

Dalam konteks pendidikan, Relational Theory sangat relevan untuk memahami dinamika komunikasi di kelas. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya berfungsi menyampaikan materi, tetapi juga membangun iklim relasional yang dapat memengaruhi motivasi, partisipasi, dan kepercayaan diri siswa. Misalnya, guru yang memberikan respons empatik dan menghargai kontribusi siswa cenderung memperkuat connectedness, sementara sikap terlalu otoriter dapat memperbesar separateness dan jarak psikologis antara guru dan siswa (Arundale, 2010). Oleh sebab itu, kualitas relasi di kelas menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran.

Sementara itu, Rapport Management Theory yang dikembangkan oleh Spencer-Oatey berfokus pada bagaimana individu mengelola keharmonisan hubungan sosial dalam interaksi. Teori ini memperluas konsep kesantunan (politeness) dengan menekankan tiga komponen utama, yaitu face sensitivities, sociality rights and obligations, dan interactional goals. Face sensitivities berkaitan dengan kebutuhan seseorang untuk dihargai dan diakui, sociality rights merujuk pada harapan tentang perlakuan yang adil dan pantas, sedangkan interactional goals menyangkut tujuan yang ingin dicapai dalam komunikasi (Spencer-Oatey, 2008).

Jumat, 27 Februari 2026

Metabahasa Semantik Alami (MSA)

 Natural Semantic Metalanguage (NSM) atau Metabahasa Semantik Alami (MSA) merupakan teori linguistik yang mengurangi makna kata-kata kompleks menjadi kumpulan semantik primitif universal, yang dapat diterjemahkan secara langsung ke semua bahasa. Pendekatan ini dikembangkan oleh Anna Wierzbicka sejak 1970-an, dengan sekitar 65 primitif semantik seperti I, YOU, GOOD, BAD, DO, HAPPEN, yang membentuk dasar deskripsi makna tanpa mengandalkan istilah budaya-spesifik.

Definisi Utama

NSM adalah metabahasa mini yang terdiri dari kata-kata sederhana dan universal, digunakan untuk menjelaskan makna leksikon, tata bahasa, dan nilai budaya secara presisi serta cross-linguistik. Metabahasa ini bersifat alami karena berasal dari bahasa sehari-hari semua penutur, bukan simbol buatan, sehingga mudah dipahami tanpa pelatihan khusus linguistik.

Cara Kerja

Makna diuraikan melalui explication, yaitu paragraf reduktif menggunakan hanya primitif semantik dan sintaksis universal terbatas. Contoh primitif dalam bahasa Indonesia mencakup aku, kamu, orang, sesuatu, baik, buruk, lakukan, terjadi.

Contoh Primitif Semantik

Berikut beberapa kategori primitif NSM dalam bahasa Inggris (dengan padanan umum Indonesia):

Selasa, 03 Februari 2026

Manfaat menjadi anggota IPrA (International Pragmatics Association)

 

Berikut poin-poin benefit atau manfaat menjadi anggota IPrA (International Pragmatics Association) yang relevan untuk disampaikan dalam konteks rencana penggabungan keanggotaan Ina-PrA dengan IPrA:

🎓 Manfaat Akademik & Ilmiah

1. Akses ke publikasi ilmiah utama

Sebagai anggota, Anda mendapatkan akses online ke jurnal Pragmatics: Quarterly Publication, publikasi inti IPrA yang mencakup isu-isu terbaru dalam bidang pragmatik (sekitar 600 halaman per tahun).

2. Kesempatan kontribusi ilmiah

Anggota mempunyai hak untuk mengajukan abstrak dan mempresentasikan makalah dalam International Pragmatics Conferences (konferensi ilmiah dua tahunan IPrA).

3. Hak berpartisipasi dalam kehidupan asosiasi

Termasuk hak memilih dalam keputusan asosiasi, menominasikan kandidat untuk dewan konsultatif, serta co-nominate untuk penghargaan John J. Gumperz Lifetime Achievement Award.

4. Akses ke komunitas dan blog IPrA

Anggota boleh memposting di blog komunitas IPrA serta menjalin komunikasi dengan peneliti lain di jaringan global.


📚 Benefit Tambahan untuk Pengembangan Profesional

5. Diskon untuk sumber daya linguistik dan jurnal lain

Diskon khusus untuk pembelian atau langganan Handbook of Pragmatics, Bibliography of Pragmatics, serta sejumlah jurnal linguistik dari penerbit internasional seperti John Benjamins, Cambridge University Press, De Gruyter Mouton, Routledge, dan lainnya.


6. Akses ke Members Only Area

Area anggota di situs IPrA memberikan akses lebih luas pada dokumen internal, laporan komite, nominasi, dan prosedur pemilihan yang hanya tersedia bagi anggota terdaftar.


🌍 Networking & Eksposur Internasional

7. Jaringan global peneliti pragmatik

Bergabung dengan komunitas internasional yang aktif melintas benua, memfasilitasi kolaborasi riset, kerjasama akademik, dan pertukaran ide di bidang pragmatik.

8. Peluang kolaborasi melalui konferensi dan publikasi

Partisipasi dalam konferensi IPrA dan publikasi jurnal membuka peluang sinergi lintas disiplin serta visibility ilmiah di panggung internasional.

📈 Keunggulan Profesional

9. Meningkatkan profil akademik/profesional

Keanggotaan IPrA diakui secara internasional di bidang linguistik pragmatik — hal ini dapat memperkuat CV, portofolio riset, dan kredibilitas akademis/penelitian anggota.

---

Catatan: 

Keanggotaan bersifat tahunan dan diperlukan pembaruan setiap kalender tahun (1 Jan–31 Des). Manfaat penuh hanya berlaku saat keanggotaan aktif.

Inilah rangkuman manfaat utama yang bisa digunakan untuk menilai dan menjelaskan Kenapa berinvestasi dalam keanggotaan IPrA bisa bernilai bagi anggota Ina-PrA, baik dari perspektif akses ilmiah, jejaring profesional, maupun pengembangan diri secara akademik.