Rabu, 24 Juni 2026

Timeline dan Korelasi Teoretis Kajian (Im) Politeness


Kajian mengenai (im)Politeness telah mengalami perkembangan teoretis yang signifikan selama lima dekade terakhir, yang mencerminkan pergeseran paradigma yang lebih luas dalam penelitian pragmatik, dari pendekatan struktural dan berpusat pada penutur menuju perspektif interaksional dan relasional. Pada tahap awalnya, Politeness dikonseptualisasikan sebagai seperangkat strategi kebahasaan yang digunakan penutur untuk memelihara hubungan antarpribadi yang harmonis dan menghindari ancaman terhadap identitas sosial mitra tutur. Seiring berjalannya waktu, para ahli mempertanyakan universalitas dan asumsi-asumsi yang berorientasi pada penutur dalam teori-teori awal, dengan berargumen bahwa Politeness lebih tepat dipahami sebagai fenomena yang bersifat evaluatif dan bergantung pada konteks. Konsekuensinya, penelitian (im)Politeness kontemporer telah berevolusi menjadi bidang yang integratif, yang mengkaji bagaimana para peserta interaksi secara bersama-sama menegosiasikan makna-makna antarpribadi dalam interaksi sosial (Brown & Levinson, 1987; Haugh, 2013).

Gelombang pertama teori (im)Politeness muncul pada era 1970-an dan 1980-an serta meletakkan fondasi klasik bagi penelitian Politeness, dengan periode ini sangat dipengaruhi oleh Prinsip Kerja Sama Grice dan konsep muka (face) Goffman. Goffman (1967) memperkenalkan gagasan tentang muka sebagai nilai sosial positif yang diklaim individu selama berinteraksi, dengan menekankan bahwa pemeliharaan muka merupakan hal sentral bagi keberhasilan komunikasi. Berdasarkan kerangka ini, Brown dan Levinson (1987) mengajukan salah satu model Politeness kebahasaan yang paling berpengaruh, dengan berargumen bahwa setiap penutur yang kompeten memiliki dua keinginan muka yang bersifat universal, yaitu muka positif yang merujuk pada keinginan akan pengakuan dan penghargaan, serta muka negatif yang merujuk pada keinginan akan otonomi dan kebebasan dari intervensi. Oleh karena banyak tindak tutur yang secara inheren mengancam keinginan muka tersebut, penutur secara strategis memilih strategi Politeness, mulai dari strategi terus terang tanpa basa-basi (bald-on-record) hingga strategi tidak langsung (off-record), yang ditentukan oleh faktor jarak sosial, relasi kuasa, dan tingkat imposisi.

Dalam tradisi teoretis yang sama, Culpeper (1996) memperluas pembahasan dengan memperkenalkan konsep ketidaksantunan (impoliteness), dan alih-alih berfokus pada pemeliharaan muka, Culpeper mengkaji bagaimana penutur secara sengaja menyerang atau merusak muka mitra tutur melalui pilihan-pilihan kebahasaan. Kerangka yang diajukannya bercermin pada strategi Politeness Brown dan Levinson dengan mengusulkan ketidaksantunan positif, ketidaksantunan negatif, sarkasme atau ketidaksantunan pura-pura (mock politeness), serta ketidaksantunan terus terang (bald-on-record impoliteness). Kontribusi ini menunjukkan bahwa komunikasi antarpribadi tidak hanya melibatkan perilaku kooperatif, tetapi juga konflik, agresi, dan gangguan relasional, sehingga ketidaksantunan diakui sebagai komponen analisis pragmatik yang sama pentingnya, khususnya dalam wacana institusional, komunikasi media, dan konflik antarpribadi (Culpeper, 1996; Culpeper, 2011).

Meskipun memiliki pengaruh yang sangat besar, paradigma gelombang pertama menerima kritik yang cukup besar pada awal tahun 2000-an, karena para peneliti berargumen bahwa model strategis terlalu menekankan intensi penutur sambil mengabaikan cara mitra tutur benar-benar menafsirkan ujaran dalam interaksi yang terjadi secara alami. Lebih jauh lagi, para kritikus mempertanyakan asumsi Brown dan Levinson bahwa prinsip-prinsip Politeness bersifat universal lintas budaya, sementara para ahli yang bekerja dalam kerangka pragmatik diskursif berpendapat bahwa Politeness tidak dapat sekadar diidentifikasi melalui bentuk-bentuk kebahasaan atau strategi-strategi yang telah ditentukan sebelumnya, karena penilaian tentang Politeness muncul melalui interpretasi peserta dalam konteks sosiokultural tertentu (Eelen, 2001; Watts, 2003). Kritik-kritik ini menandai awal dari gelombang kedua penelitian (im)Politeness yang memperkenalkan perspektif yang secara fundamental berbeda dengan menekankan pendekatan relasional dan diskursif.

Salah satu kontribusi yang paling berpengaruh dari gelombang kedua datang dari Locher dan Watts (2005), yang mengajukan konsep Kerja Relasional (Relational Work) dengan berargumen bahwa alih-alih mengkategorikan ujaran sebagai santun atau tidak santun secara inheren, semua perilaku komunikatif berkontribusi pada negosiasi hubungan antarpribadi. Menurut kerangka ini, Politeness hanyalah salah satu di antara sekian banyak kemungkinan evaluasi, sementara perilaku yang dianggap sesuai secara sosial atau "perilaku politis" (politic behavior) membentuk dasar normatif bagi interaksi, sehingga Politeness dipandang sebagai penilaian evaluatif yang dibuat oleh peserta, bukan sebagai properti kebahasaan yang tetap. Perspektif ini menggeser fokus analitis dari strategi penutur menuju pembentukan bersama (co-construction) makna dalam wacana, yang secara signifikan mengubah orientasi penelitian dari pendekatan yang normatif dan prediktif menjadi pendekatan yang deskriptif dan interpretatif.

Perkembangan komplementer selama gelombang kedua adalah Teori Manajemen Rapor (Rapport Management Theory) yang dikemukakan oleh Spencer-Oatey (2008), yang sambil mengakui pentingnya muka, memperluas konsep tersebut melampaui identitas individual dengan memasukkan hak-hak sosialitas (sociality rights) dan kewajiban interaksional. Manajemen rapor menunjukkan bahwa hubungan antarpribadi tidak hanya bergantung pada pemeliharaan muka, tetapi juga pada penghormatan terhadap ekspektasi individu mengenai keadilan, kesetaraan, asosiasi, dan kewajiban peran, sehingga kerangka yang lebih luas ini memberikan penjelasan yang lebih komprehensif tentang komunikasi antarpribadi karena keharmonisan relasional dipengaruhi oleh berbagai dimensi di luar kepentingan muka semata. Akibatnya, Teori Manajemen Rapor menjadi sangat berharga untuk menganalisis komunikasi antarbudaya, wacana institusional, dan interaksi profesional, di mana ekspektasi sosial berbeda antar komunitas, dan teori ini sering digunakan secara bersamaan dengan pendekatan relasional Locher dan Watts untuk memberikan pemahaman yang lebih utuh tentang dinamika Politeness (Spencer-Oatey, 2008).

Selasa, 23 Juni 2026

Teori RELATIONAL WORK punya Locher and Watts Versus Arundale (2010)

 Pendahuluan: Relational Turn dalam Pragmatik

Dalam beberapa dekade terakhir, kajian pragmatik telah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan dari fokus pada makna literal tuturan menuju pemahaman bagaimana bahasa digunakan untuk membangun dan memelihara hubungan antarpribadi. Pergeseran ini, yang dikenal sebagai relational turn, menempatkan hubungan sosial sebagai pusat analisis komunikasi. Dua teori yang menjadi fondasi penting dalam pendekatan ini adalah teori Relational Work yang dikembangkan oleh Locher dan Watts serta teori Relational dari Arundale. Kedua teori ini sama-sama melihat komunikasi sebagai upaya membangun hubungan, tetapi memiliki fokus yang berbeda. Teori Relational Work dari Locher dan Watts berfokus pada bagaimana norma sosial dan usaha individu membentuk komunikasi yang dianggap pantas atau tidak, sementara teori Relational dari Arundale menekankan bagaimana hubungan dan muka (face) dibangun secara bersama-sama dalam interaksi melalui dialektika keterhubungan dan keterpisahan (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2005, 2008).


Persamaan Utama: Fokus pada Hubungan dan Relasi

Persamaan mendasar antara kedua teori ini terletak pada pengakuan bahwa tujuan utama komunikasi bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan juga untuk membangun, memelihara, dan menegosiasikan hubungan antarpribadi. Locher dan Watts (2005) mendefinisikan relational work sebagai "usaha yang diinvestasikan individu dalam menegosiasikan hubungan dengan orang lain," yang setara dengan tingkat komunikasi interpersonal dalam kerangka Halliday. Senada dengan itu, Arundale (2010) menggunakan istilah "relasional" untuk mengindeks fenomena dyadic yang muncul secara dinamis dalam komunikasi antarpribadi. Dengan demikian, kedua teori ini berada di garis depan relational turn di bidang pragmatik yang menekankan bahwa hubungan merupakan locus utama organisasi sosial dan karenanya menjadi fokus utama dalam pragmatik (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2005).


Persamaan Kedua: Pandangan Dinamis tentang Muka (Face)

Kedua teori ini juga sepakat dalam menolak pandangan tradisional tentang face sebagai atribut pribadi yang statis sebagaimana dikemukakan oleh Brown dan Levinson. Locher dan Watts, yang mendasarkan pemikiran mereka pada Goffman, memandang face sebagai "topeng" yang dipinjam untuk durasi pertunjukan tertentu dan dapat berubah sesuai situasi. Mereka berargumen bahwa face tidak secara inheren melekat pada individu, melainkan dikonstruksi secara diskursif dalam setiap interaksi sehingga seseorang dapat memiliki berbagai bentuk face bahkan dalam satu interaksi. Sejalan dengan itu, Arundale (2010) mendefinisikan face sebagai pemahaman partisipan mengenai keterhubungan dan keterpisahan relasional yang dikonstitusikan secara bersama dalam interaksi. Dengan demikian, kedua teori memandang face sebagai konstruksi sosial yang dinegosiasikan secara dinamis (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2005, 2008).


Persamaan Ketiga: Pendekatan Diskursif dan First-Order

Baik teori Relational Work maupun Face Constituting Theory (FCT) menganut pendekatan diskursif yang menganalisis data interaksi nyata untuk memahami bagaimana partisipan mengevaluasi perilaku sebagai sopan, tidak sopan, atau pantas. Locher dan Watts (2005) secara eksplisit mendasarkan pendekatan mereka pada konsep first-order politeness, yaitu pemahaman kesopanan sebagaimana dipersepsikan oleh para partisipan sendiri. Mereka menegaskan bahwa tidak ada bentuk linguistik yang secara inheren sopan karena makna kesopanan bergantung pada konteks interaksi. Demikian pula, Arundale (2010) mengembangkan teorinya dari perspektif partisipan yang konsisten dengan etnometodologi dan analisis percakapan. Kedua pendekatan tersebut sama-sama menempatkan evaluasi partisipan sebagai pusat analisis pragmatik (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2005).


Perbedaan Fokus Analisis: Norma vs. Dialektika

Perbedaan utama kedua teori terletak pada fokus analisisnya. Teori Relational Work dari Locher dan Watts menitikberatkan pada bagaimana norma sosial, yang dikonsepsikan sebagai frames dan habitus, digunakan untuk mengevaluasi perilaku komunikasi sebagai pantas atau tidak pantas. Sebaliknya, teori Arundale berfokus pada bagaimana hubungan dan face dibangun secara bersama melalui dialektika antara keterhubungan (connection) dan keterpisahan (separation). Dalam perspektif Arundale, face bukan sekadar hasil evaluasi norma, tetapi merupakan fenomena relasional yang muncul dari interaksi itu sendiri (Arundale, 2010; Locher & Watts, 2008).