Minggu, 30 Agustus 2026

Goffman Interaction Ritual

Interaction Ritual Goffman

Berdasarkan PDF karya Erving Goffman, Interaction Ritual, berikut adalah uraian mengenai poin-poin penting dalam buku tersebut, dengan fokus khusus pada keterkaitannya dengan konsep face (wajah) dan rapport management (pengelolaan hubungan interpersonal) dalam kajian pragmatik.

Ringkasan Poin-Poin Utama dalam PDF

Buku ini merupakan kumpulan esai yang menjadi salah satu landasan penting bagi kajian sosiologis mengenai interaksi tatap muka. Goffman memandang interaksi tatap muka sebagai suatu bentuk ritual. Premis utamanya adalah bahwa interaksi sosial tidak semata-mata merupakan pertukaran informasi, melainkan juga sebuah drama moral, tempat para partisipan menampilkan diri satu sama lain sekaligus mempertahankan tatanan sosial yang dianggap sakral.

Beberapa gagasan utama dalam buku tersebut meliputi:

1. Face dan Line

Setiap partisipan dalam suatu interaksi mengadopsi sebuah “line”, yaitu pola tindakan verbal dan nonverbal yang menunjukkan pandangan seseorang terhadap situasi serta penilaiannya terhadap diri sendiri dan orang lain. Sementara itu, “face” merupakan nilai sosial positif yang secara efektif diklaim seseorang bagi dirinya melalui line tersebut.

Dengan demikian, face dapat dipahami sebagai citra diri sosial yang bersifat publik, yang pada dasarnya “dipinjam” dari masyarakat dan oleh karena itu harus dipertahankan melalui perilaku yang sesuai dengan norma interaksi sosial.

2. The Ritual Order (Tatanan Ritual)

Interaksi sosial diatur oleh suatu tatanan ritual, yang dapat dianalogikan dengan suatu upacara keagamaan karena individu diperlakukan sebagai suatu “objek sakral”.

Dalam interaksi, para partisipan diharapkan menunjukkan dua hal utama:

  • Deference (penghormatan), yaitu tindakan yang menunjukkan penghargaan terhadap orang lain.

  • Demeanor (sikap/perilaku yang pantas), yaitu cara seseorang menampilkan dirinya sebagai individu yang layak dihargai.

Dengan demikian, interaksi sosial berlangsung berdasarkan seperangkat norma ritual yang mengatur bagaimana seseorang seharusnya memperlakukan dirinya sendiri dan orang lain.

3. Face-Work (Kerja Wajah)

Face-work merujuk pada berbagai tindakan yang dilakukan individu untuk membuat perilakunya tetap konsisten dengan face yang sedang diklaimnya serta untuk memperbaiki atau memulihkan face ketika mengalami ancaman.

Dalam pengertian ini, face-work dapat dipandang sebagai semacam “aturan lalu lintas” dalam interaksi sosial. Aturan tersebut membantu memastikan bahwa interaksi dapat berlangsung secara lancar tanpa menimbulkan rasa malu, penghinaan, atau pelanggaran terhadap perasaan pihak lain.

4. Self sebagai Sebuah Konstruksi

Menurut Goffman, self bukanlah sesuatu yang sepenuhnya bersifat pribadi atau berada di dalam diri individu. Sebaliknya, self merupakan suatu efek dramatik yang muncul melalui kerja ritual yang terkoordinasi di antara seluruh partisipan dalam interaksi.

Dengan demikian, identitas atau citra diri merupakan sesuatu yang diciptakan, dipertahankan, dan bahkan dapat dihancurkan di ruang publik melalui proses interaksi sosial.

5. Action dan Character

Goffman juga membahas situasi “action”, yaitu situasi ketika individu secara sukarela mengambil tugas atau tindakan yang memiliki konsekuensi dan mengandung permasalahan tertentu.

Momen-momen yang penuh risiko atau konsekuensi tersebut memberikan kesempatan khusus kepada individu untuk memperlihatkan “character” (karakter), yaitu kapasitas seseorang untuk menunjukkan keberanian, ketenangan, keteguhan, dan integritas. Karakter tersebut pada akhirnya menjadi salah satu komponen penting dari face seseorang.


Indikator untuk Menemukan Face dan Perannya dalam Rapport Management

Dalam kajian pragmatik, konsep face paling terkenal dikembangkan lebih lanjut melalui Politeness Theory yang dikemukakan oleh Brown dan Levinson. Karya Goffman merupakan salah satu sumber langsung dan fundamental bagi pengembangan konsep tersebut.

Indikator atau lokasi utama untuk menemukan face dalam kerangka pemikiran Goffman adalah penampilan publik dari “line”.

Goffman tidak memandang face sebagai suatu kondisi psikologis yang berada di dalam diri seseorang. Sebaliknya, face merupakan suatu sifat yang tersebar dalam aliran peristiwa yang terjadi selama suatu pertemuan atau interaksi. Face hanya menjadi nyata melalui perilaku ekspresif para partisipan.

Oleh karena itu, seorang peneliti pragmatik yang ingin mengidentifikasi face sebaiknya memperhatikan hal-hal berikut:

1. The Expressive Order (Tatanan Ekspresif)

Peneliti perlu memperhatikan dinamika mikro dalam interaksi itu sendiri. Hal ini tidak hanya mencakup apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana sesuatu dikatakan.

Aspek yang perlu diperhatikan antara lain:

  • pilihan kata;

  • struktur ujaran;

  • intonasi;

  • nada suara;

  • gerak tubuh;

  • tatapan;

  • ekspresi wajah;

  • postur tubuh; dan

  • berbagai perilaku nonverbal lainnya.

Semua aspek tersebut dapat menjadi indikator bagaimana seorang individu mempertahankan atau mengonstruksi face-nya dalam interaksi.

2. The Ritual of the Encounter (Ritual dalam Pertemuan)

Peneliti juga perlu mengidentifikasi aturan-aturan tidak tertulis dan bersifat seremonial yang diikuti oleh para partisipan dalam rangka mempertahankan tatanan sosial.

Tujuan utamanya adalah mengidentifikasi:

  1. “line” yang sedang diambil oleh seseorang, dan

  2. “face” yang sedang diklaim atau dipertahankan oleh orang tersebut.

Dengan demikian, analisis face tidak hanya berfokus pada ujaran secara terpisah, tetapi pada keseluruhan praktik interaksional yang menunjukkan bagaimana seseorang memosisikan dirinya dan orang lain.

3. The Incident (Insiden)

“Incident” merujuk pada titik-titik gangguan atau ancaman terhadap kelancaran interaksi.

Contohnya meliputi:

  • kesalahan atau gaffe;

  • penghinaan;

  • interupsi;

  • tindakan yang tidak sesuai norma;

  • komentar yang tidak pantas; atau

  • tindakan lain yang dapat mengancam citra sosial seseorang.

Ketika suatu incident terjadi, face menjadi lebih mudah diamati karena para partisipan harus melakukan corrective face-work, yaitu tindakan korektif untuk memulihkan keseimbangan ritual dalam interaksi.


Hubungan antara Face dan Rapport Management dalam Pragmatik

Rapport management merujuk pada berbagai cara yang digunakan manusia melalui bahasa dan perilaku interaksional untuk membangun, mempertahankan, memperkuat, atau bahkan mengancam hubungan sosial.

Dalam pragmatik linguistik, konsep ini sering dibahas melalui perspektif kesantunan (politeness). Namun, rapport management memiliki cakupan yang lebih luas karena mencakup pengelolaan:

  • kebutuhan face;

  • jarak sosial (social distance);

  • hubungan kekuasaan (power relations);

  • hak-hak interpersonal (sociality rights and obligations); serta

  • kualitas hubungan antara para partisipan.

Kerangka pemikiran Goffman memberikan landasan sosiologis yang penting untuk memahami bagaimana proses tersebut berlangsung.

Hubungan langsung antara face dan rapport management dapat dilihat melalui dua kewajiban utama seorang partisipan dalam interaksi.

1. Self-Respect — Orientasi Defensif

Self-respect mengacu pada kewajiban individu untuk mempertahankan dan melindungi face-nya sendiri.

Dalam kajian pragmatik, hal ini dapat dikaitkan dengan motivasi di balik berbagai strategi kesantunan, seperti:

  • meminta maaf;

  • menggunakan hedging atau ungkapan penghalus;

  • memberikan penjelasan;

  • menggunakan bentuk tidak langsung; dan

  • menghindari tindakan yang dapat merusak citra sosial diri sendiri.

Individu melakukan face-work untuk memastikan bahwa klaimnya terhadap nilai sosial tidak didiskreditkan atau dirusak dalam interaksi.

2. Considerateness — Orientasi Protektif

Considerateness merujuk pada kewajiban individu untuk melindungi face orang lain.

Konsep ini menjadi salah satu landasan sosiologis bagi strategi positive politeness dan negative politeness, sekaligus menjadi salah satu mekanisme utama dalam rapport management.

Individu diharapkan melakukan berbagai upaya untuk menjaga perasaan dan face orang lain yang hadir dalam interaksi.

Hal tersebut mencakup dua jenis ritual utama:

a. Avoidance Rituals (Ritual Penghindaran)

Individu perlu menghindari topik, pertanyaan, atau tindakan yang berpotensi menimbulkan:

  • rasa sakit;

  • rasa malu;

  • penghinaan;

  • ketidaknyamanan; atau

  • perasaan terhina

pada pihak lain.

Konsep ini menjadi salah satu dasar bagi pemahaman pragmatik mengenai face-threatening acts (FTAs), yaitu tindakan tutur yang berpotensi mengancam face mitra tutur.

Dalam situasi semacam itu, penutur dapat memperkirakan bahwa suatu tindakan tutur berpotensi mengancam face pendengar dan kemudian menggunakan strategi kesantunan untuk mengurangi atau memitigasi ancaman tersebut.

b. Presentational Rituals (Ritual Presentasional)

Individu juga perlu melakukan tindakan yang menyampaikan:

  • penghargaan;

  • rasa hormat;

  • solidaritas;

  • penerimaan; dan

  • apresiasi

terhadap orang lain.

Contohnya dapat berupa:

  • salam;

  • pujian;

  • ucapan terima kasih;

  • menawarkan bantuan kecil;

  • memberikan penghargaan verbal; atau

  • menunjukkan perhatian terhadap orang lain.

Hal ini menjadi salah satu dasar bagi positive politeness, yang bertujuan membangun dan memperkuat rapport dengan menunjukkan bahwa penutur menghargai, menyukai, dan memberikan perhatian kepada mitra tuturnya.


Dialektika Pengelolaan Face

Salah satu gagasan penting Goffman adalah adanya ketegangan yang melekat antara kedua jenis ritual tersebut. Goffman menyebutnya sebagai “constant dialectic between presentational rituals and avoidance rituals”, yaitu dialektika yang terus-menerus antara ritual presentasional dan ritual penghindaran.

Keseimbangan antara keduanya sangat penting.

Jika seseorang terlalu menunjukkan penghormatan atau terlalu berusaha mendekati orang lain, tindakan tersebut justru dapat menjadi intrusif atau mengganggu ruang pribadi dan otonomi orang tersebut. Sebaliknya, jika seseorang terlalu menjaga jarak, perilakunya dapat dipersepsikan sebagai dingin, tidak peduli, atau menolak.

Dengan demikian, keberhasilan rapport management bergantung pada kemampuan para partisipan untuk mempertahankan keseimbangan yang halus, dinamis, dan terus-menerus antara dua orientasi tersebut:

  1. orientasi protektif, yaitu melindungi face orang lain; dan

  2. orientasi defensif, yaitu mempertahankan face diri sendiri.


Kesimpulan

Secara singkat, Goffman memberikan penjelasan mengenai “mengapa” di balik “bagaimana” praktik pragmatik berlangsung.

Ia menunjukkan bahwa strategi linguistik berupa kesantunan, taktik, kehati-hatian, dan diplomasi bukanlah tindakan yang bersifat arbitrer atau sekadar hiasan dalam komunikasi. Strategi tersebut merupakan bagian penting, fungsional, dan bahkan memiliki karakter ritual dalam kehidupan sosial.

Para partisipan secara sosial dan moral diharapkan melakukan berbagai bentuk face-work untuk mengelola face diri sendiri dan face orang lain yang bersifat rentan terhadap ancaman dalam interaksi.

Dengan demikian, keberhasilan atau kegagalan suatu interaksi dapat dilihat dari sejauh mana kewajiban-kewajiban ritual tersebut berhasil dipenuhi. Interaksi yang berhasil adalah interaksi yang mampu mempertahankan tatanan ritual dan mencegah terjadinya “incident”, yaitu momen yang dapat menimbulkan rasa malu, mempermalukan seseorang, atau bahkan merusak face yang sedang dipertahankan.

Dalam perspektif pragmatik, kerangka Goffman dengan demikian memberikan dasar konseptual yang kuat untuk memahami bahwa bahasa tidak hanya digunakan untuk menyampaikan proposisi atau informasi, tetapi juga untuk mengelola identitas sosial, hubungan interpersonal, dan keseimbangan face dalam interaksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar