Rabu, 03 Desember 2025

Ambiguitas hingga intensionalitas dalam kerangka Near-side pragmatics dan Far-side pragmatics

 Berikut penjelasan ambiguitas hingga intensionalitas dalam kerangka Near-side pragmatics dan Far-side pragmatics secara jelas, runtut, dan mudah dipahami.

Near-side pragmatics berfokus pada bagaimana konteks membantu menentukan “apa yang sebenarnya dikatakan” secara literal, sedangkan far-side pragmatics berfokus pada apa yang dilakukan dan disiratkan “melampaui” apa yang dikatakan itu sendiri. Dalam perjalanan dari ambiguitas menuju intensionalitas, keduanya membentuk satu kontinua: dari pemilahan makna literal yang meragukan sampai penafsiran niat komunikatif yang lebih dalam.scirp+3

Near-side pragmatics dan ambiguitas

  • Near-side pragmatics menangani persoalan teknis seperti penyelesaian ambiguitas (lexical, struktural), ke-vague-an, referensi kata ganti, nama diri, deiksis, serta sebagian aspek presuposisi.plato.stanford+2

  • Di sini, konteks dipakai untuk menentukan proposisi literal: misalnya kalimat “I saw a star” harus diputuskan apakah merujuk ke bintang di langit atau selebriti, sehingga ambiguitas dipersempit sebelum makna implikatif dibahas.study+1

Far-side pragmatics dan intensionalitas

  • Far-side pragmatics mengurus apa yang terjadi setelah “apa yang dikatakan” sudah ditetapkan: jenis tindak tutur apa yang dilakukan, implikatur apa yang timbul, dan bagaimana sikap, keyakinan, serta tujuan penutur dibaca dari ujaran.john.jperry+2

  • Di ranah ini, intensionalitas (keterarahan ujaran pada maksud komunikatif tertentu) menjadi pusat analisis: penafsir berupaya merekonstruksi niat, sikap, dan tujuan penutur di balik bentuk linguistik yang sudah tidak ambigu secara literal.onlinelibrary.wiley+1

Dari ambiguitas ke intensionalitas

  • “Dari ambiguitas hingga intensionalitas” menggambarkan lintasan interpretasi: pertama-tama penyimak menyelesaikan ambiguitas dan menentukan proposisi literal (tugas near-side), lalu beralih menafsirkan niat, implikatur, dan efek tindak tutur (tugas far-side).vdu+2

  • Ambiguitas bisa juga digunakan secara sengaja (intentional ambiguity) sebagai strategi pragmatik: penutur sengaja mempertahankan multi-makna untuk mencapai tujuan kesantunan, persuasi, atau humor, sehingga transisi dari bentuk ambigu ke pembacaan niat menjadi titik krusial antara near-side dan far-side pragmatics.ijlll+2

Rabu, 05 November 2025

Prof Jumanto getting along with Michael Haugh, Brown & Levinson

The 19th International Pragmatics Conference (IPrA 2025) was successfully held at the University of Queensland in Brisbane, Australia, from 22 to 27 June 2025. The conference brought together scholars, researchers, and practitioners from around the world to discuss the latest developments in pragmatics—the study of language in use and communication in social contexts. With the theme focused on language, interaction, and global diversity, the event featured keynote lectures, plenary sessions, panel discussions, workshops, and hundreds of parallel paper presentations covering areas such as discourse analysis, conversation analysis, sociopragmatics, intercultural communication, applied linguistics, cognitive pragmatics, and new directions in pragmatics research. 

The conference served not only as a forum to present cutting-edge research, but also as an international networking hub that fostered interdisciplinary collaboration between academics, educators, and graduate students. Participants also enjoyed various cultural and academic exchange activities, including campus tours and an official conference reception showcasing Australian hospitality. The success of IPrA 2025 reaffirmed the conference’s role as a major global platform for advancing the understanding of language in real-world interaction.
Prof Jumanto, the President of Indonesian Pragmatics Association was getting along with Brown & Levinson.
Prof Jumanto, the President of INa-Pra was getting along with Michael Haugh, the President of IPrA (International Pragmatics Association).