Jumat, 30 Januari 2026

Kerangka teori prinsip politeness dan impoliteness dalam cyberpragmatics

Kerangka teori prinsip politeness dan impoliteness dalam cyberpragmatics mengadaptasi teori klasik pragmatics ke komunikasi digital, di mana fitur platform seperti anonimitas dan multimodalitas memengaruhi interpretasi makna.

​Kerangka Teori Utama

Cyberpragmatics, yang dikembangkan oleh Francisco Yus, merupakan cabang pragmatics yang mempelajari pembentukan makna dalam komunikasi berbasis internet dengan lensa teori relevansi Sperber & Wilson. Teori politeness Brown & Levinson (1987) menjadi fondasi, di mana politeness melibatkan strategi mitigasi face-threatening acts (FTA) melalui positive politeness (solidaritas) dan negative politeness (otonomi), sementara impoliteness ala Culpeper (1996, 2011) melibatkan serangan langsung atau sarkasme terhadap face lawan bicara. Leech's politeness maxims (tact, generosity, approbation, modesty, agreement, sympathy) juga diadaptasi untuk menganalisis pelanggaran norma kesopanan di media sosial.

Landasan Teori dalam Cyberpragmatics

Dalam cyberpragmatics, politeness menjadi relational work yang dinegosiasikan melalui affordances digital seperti emoji, GIF, dan like button untuk mengkompensasi kurangnya isyarat nonverbal, sehingga mengurangi FTA. Impoliteness sering meningkat karena anonimitas dan jarak emosional, menghasilkan strategi seperti bald-on-record insults, sarcasm, atau dogpiling di komentar Instagram, sebagaimana terlihat pada studi netizen Indonesia. Landasan ini menekankan konteks platform-spesifik, di mana norma netiquette dan multimodalitas menentukan apakah ujaran dianggap sopan atau kasar.

Prinsip Politeness

Positive politeness: Dibangun melalui pujian, emoji 😊, atau inclusive pronouns untuk solidaritas di chat informal.

Negative politeness: Menggunakan hedges ("mungkin"), indirect requests, atau disclaimers untuk menghormati otonomi, umum di email mahasiswa-dosen.
Prinsip Impoliteness

Bald on-record: Kritik langsung tanpa mitigasi, seperti sarkasme di komentar politik.

Positive/negative impoliteness: Mengabaikan atau mengejek face melalui mockery, ghosting, atau emoji sarkastik 🙄.
References

Brown, P., & Levinson, S. C. (1987). Politeness: Some Universals in Language Usage. Cambridge University Press.

Culpeper, J. (1996). Towards an anatomy of impoliteness. Journal of Pragmatics, 25(3), 349–367.

Culpeper, J. (2011). Impoliteness: Using Language to Cause Offence. Cambridge University Press.

Leech, G. N. (1983). Principles of Pragmatics. Longman.

Yus, F. (2011). CyberPragmatics: Internet-Mediated Communication in Context. John Benjamins.

Yusuf, A. B. (2025). Cyberpragmatics of politeness in netizens’ comments on the Indonesian President’s Instagram posts. Lingue: Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra, 7(1), 144–156. https://doi.org/10.33477/lingue.v7i1.9455

Tidak ada komentar:

Posting Komentar