Selasa, 09 Juni 2026

Belajar Pragmatik bersama Prof Joe - Presiden Asosiasi Pragmatik Indonesia

 *## Ringkasan*

Video ini merupakan wawancara dengan Prof. Dr. Dr. dr. N. Jumanto, M.Pd.I, presiden Asosiasi Pragmatik Indonesia, yang membahas secara komprehensif mengenai ilmu pragmatik. Penjelasan dimulai dari definisi dasar pragmatik, perbedaan antara pragmatik verbal dan nonverbal, hingga teori-teori utama seperti tindak tutur dan prinsip kerja sama. Selain itu, Prof. Jumanto membahas tiga paradigma utama dalam pragmatik: paradigma menyelamatkan muka (face saving), paradigma ancaman muka (face threat), dan interaksi strategis (strategic interaction). Video ini sangat cocok bagi mahasiswa, dosen, atau siapa saja yang ingin memahami dasar-dasar pragmatik sekaligus mendapatkan gambaran praktis penelitian pragmatik dan aplikasinya dalam interaksi sehari-hari serta penelitian akademik.

 *## Ringkasan Timeline*

- **00:00 – 01:32: Perkenalan dan Latar Belakang Prof. Jumanto** 

  Prof. Jumanto diperkenalkan sebagai presiden Asosiasi Pragmatik Indonesia dan menjelaskan latar belakang asosiasi yang menaungi dosen dan praktisi pragmatik.

- **01:32 – 05:02: Definisi dan Ruang Lingkup Pragmatik** 

  Penjelasan pragmatik berasal dari tindak manusia, baik verbal maupun nonverbal, dengan pembagian pragmatik semiotik dan linguistik pragmatik. Pendefinisian tindak tutur (speech act) dan unsur lokusi (bentuk), ilokusi (makna), serta perlokusi (efek).

- **05:02 – 07:14: Teori Petutur dan Konsep Power-Solidarity** 

  Penekanan pada interaksi antara penutur dan petutur, dengan pengakuan dimensi kekuasaan dan solidaritas dalam pragmatik oleh Brown dan Levinson.

- **07:14 – 12:18: Prinsip Kerjasama Grice dan Teori Kesantunan Brown dan Levinson** 

  Dijelaskan prinsip kuantitas, kualitas, relevansi, dan cara dalam percakapan serta pengembangan teori kesantunan sebagai kritik dari prinsip kerja sama.

- **12:18 – 17:09: Perkembangan Teori Kesantunan dan Teori Ketidaksantunan (Impoliteness)** 

  Brown dan Levinson fokus pada strategi kesantunan; sementara teori ketidaksantunan oleh Culpeper melihat penggunaan bahasa untuk menyerang (face threat).

- **17:09 – 21:41: Paradigma Ketiga: Interaksi Strategis dan Bahasa Berkarakter** 

  Fenomena tuturan yang mengancam namun juga memuji (harmonizing face threat), contoh riset bullying yang mengandung unsur keakraban, dan pengembangan Bahasa Berkarakter yang membedakan bahasa jarak (formal) dan akrab.

- **21:41 – 26:52: Saran Penelitian Pragmatik untuk Mahasiswa** 

  Penjelasan tentang jenis penelitian pragmatik: deskriptif vs. analitik, contoh fokus pada pelanggaran maksim, kesantunan positif dan negatif, ketidaksantunan, serta akibat penggunaan bahasa yang tidak sesuai konteks.

- **26:52 – 29:20: Dampak Pragmatik dalam Kehidupan Sosial dan Penutup** 

  Contoh nyata dampak bahasa tidak santun di ruang publik yang berujung pada konflik sosial; pesan penting literasi bahasa dan penutup dengan ucapan terima kasih.

 *## Poin-poin Penting*

- 🔍 **Pragmatik sebagai Ilmu Tindak Manusia**: Melibatkan tutur verbal dan nonverbal dengan analisis terhadap bentuk (lokusi), makna (ilokusi), dan efek (perlokusi). 

- 📚 **Teori Kunci dalam Pragmatik**: Speech act (Austin & Searle), power-solidarity (Brown & Levinson), prinsip kerja sama (Grice), kesantunan dan ketidaksantunan dalam komunikasi. 

- 🔄 **Tiga Paradigma Pragmatik Modern**: Face saving (melindungi muka), face threat (mengancam muka), dan strategic interaction (interaksi strategis dalam konteks bahasa akrab dan formal). 

- 📝 **Strategi Penelitian Pragmatik**: Pilihan antara deskriptif dan kritis, fokus pada pelanggaran maksim, pengelolaan muka, dan konteks sosial komunikasi. 

- ⚠️ **Dampak Bahasa Tidak Santun di Ruang Publik**: Penggunaan bahasa akrab secara tidak tepat bisa berpotensi menyebabkan konflik sosial hingga kekerasan. 

Jumat, 05 Juni 2026

Timeline of Cyberpragmatics (Im)politeness Research (2016–2026)

 


Antara tahun 2016 dan 2017, fokus siberpragmatik (cyberpragmatics) beralih dari yang awalnya mengabaikan komunikasi termediasi komputer (computer-mediated communication) sebagai media yang kurang efektif, menjadi eksplorasi tentang bagaimana arsitektur platform secara aktif membentuk interaksi daring. Para pakar mulai mengintegrasikan teori manajemen rapor (rapport management theory) dari Spencer-Oatey untuk menganalisis bagaimana fitur-fitur teknis, seperti laporan keterbacaan (read receipts) dan indikator sedang mengetik (typing indicators), berfungsi sebagai isyarat non-verbal yang memengaruhi muka relasional (relational face).

Dari tahun 2018 hingga 2019, adopsi massal aplikasi pesan instan seperti WhatsApp di lembaga-lembaga hierarkis, khususnya di wilayah Global South, memicu penelitian empiris yang intens. Berbagai studi menyoroti seringnya terjadi pengabaian rapor (rapport neglect) dan penantangan rapor (rapport challenge) dalam aliran pesan teks antara mahasiswa dan dosen. Fenomena ini menunjukkan bahwa singkatan teks dan laras bahasa (register) informal sering kali meregangkan standar tradisional kesantunan berbahasa.

Kemunculan pandemi COVID-19 antara tahun 2020 dan 2022 memaksa interaksi profesional dan akademik global beralih ke platform obrolan seperti Slack dan Teams, sehingga kohesi relasional daring menjadi sangat vital. Para peneliti sangat bergantung pada teori pembentukan muka (face constituting theory) dari Arundale untuk mengamati bagaimana tim kerja jarak jauh menggunakan emoji sebagai alat mitigasi penting demi menstabilkan hubungan dan mengatasi tekanan kognitif akibat ambiguitas berbasis teks.

Sepanjang tahun 2023 dan 2024, penelitian siberpragmatik mencapai sintesis multi-teoretis dengan menggabungkan model kesantunan klasik dengan penanda digital modern. Para pakar berhasil memetakan honorifik (sebutan kehormatan) lokal dan ungkapan keagamaan langsung ke dalam ranah ilokusional (illocutionary domain) dan ranah wacana (discourse domain) milik Spencer-Oatey. Hal ini membuktikan bahwa kesantunan digital sangat terikat dengan konteks budaya yang diadaptasi untuk obrolan mikro yang cepat.

Pada tahun 2025 dan 2026, integrasi luas dari teks prediktif (predictive text), balasan otomatis pintar (smart auto-replies), dan agen AI generatif mendorong siberpragmatik ke dalam paradigma baru, yaitu pengelolaan muka algoritmik (algorithmic facework). Para peneliti saat ini menggunakan kerangka kerja Arundale untuk menganalisis dinamika triadik (tiga arah) yang baru ini, sekaligus mempertanyakan apakah respons otomatis termediasi AI dapat menghasilkan hubungan relasional yang tulus antarmanusia.

Saat menganalisis lingkungan digital ini, teori pembentukan muka Arundale menawarkan sudut pandang mikro-analisis yang khusus. Alih-alih memperlakukan muka sebagai milik individu, teori ini berfokus pada hubungan diada (dyad), yang menjelaskan bagaimana hubungan atau jarak relasional dibangun secara bersama-sama melalui giliran bertutur (chat turns) yang berurutan, serta bagaimana jeda respons (response lags) mengubah interpretasi bersama.

Sebaliknya, teori manajemen rapor Spencer-Oatey menyediakan kerangka kerja makro-analisis yang dirancang untuk mengategorikan strategi sosial dan atribut identitas tertentu. Model ini melihat perilaku obrolan melalui ranah-ranah yang saling terhubung—seperti ranah gaya bahasa (stylistic) dan non-verbal—untuk mengevaluasi bagaimana para peserta interaksi melindungi atau melanggar hak-hak sosialitas (sociality rights) serta tujuan interaksional yang telah disepakati.

Kedua kerangka kerja fundamental ini bersinggungan langsung pada "aksioma niat" digital, yang menyatakan bahwa ketidaksantunan daring jarang sekali menjadi peristiwa teks yang terisolasi. Karena saluran berbasis teks saja sangat memangkas konteks fisik, ancaman percakapan biasanya baru disadari secara retrospektif berdasarkan cara penerima merespons pesan tersebut. Hal ini membuktikan bahwa muka digital merupakan sebuah konstruksi kolaboratif.

Pada akhirnya, beasiswa siberpragmatik selama satu dekade terakhir menunjukkan bahwa seiring berkembangnya teknologi obrolan, adaptasi manusia tetap mampu mengimbanginya dengan memberikan bobot relasional yang kompleks pada isyarat linguistik yang minimal. Baik saat menghadapi hierarki institusional yang kaku pada akhir 2010-an maupun ruang kerja AI yang otomatis di tahun 2026, mengelola rapor daring tetap menjadi proses negosiasi interaktif yang dinamis.

Daftar bacaan mendasar untuk evolusi teoretis ini mencakup teks-teks penting dari Arundale (2010) dan Spencer-Oatey (2008) tentang mekanika interpersonal, di samping studi relasional khusus platform oleh Locher et al. (2015) dan Budiwati (2019). Trajektori ini dilengkapi oleh sintesis empiris modern, terutama profil komunikasi mahasiswa-dosen oleh Risdianto et al. (2023) dan kerangka kerja pragmatik komprehensif dari Xiang et al. (2024).