Konsep face atau 'wajah' merupakan salah satu pilar fundamental dalam kajian pragmatik dan sosiolinguistik, yang berfungsi sebagai lensa untuk memahami bagaimana individu mengelola citra diri dan hubungan sosial dalam interaksi komunikatif. Gagasan ini, yang dipopulerkan oleh Erving Goffman, mendefinisikan face sebagai citra diri yang ingin ditampilkan seseorang kepada publik selama berinteraksi (Goffman, 1967). Dalam ranah linguistik, konsep ini kemudian diadopsi dan diperluas untuk menjelaskan fenomena kesantunan berbahasa, di mana setiap tindak tutur berpotensi mengancam atau memelihara face lawan bicara. Pemahaman tentang face menjadi krusial karena kesalahan dalam mengelolanya dapat menyebabkan konflik, rasa malu, atau bahkan putusnya hubungan sosial, sementara pengelolaan yang tepat dapat memperkuat ikatan dan kerja sama antarindividu.
Salah satu kerangka teori paling berpengaruh mengenai face diajukan oleh Penelope Brown dan Stephen Levinson dalam karya monumental mereka, Politeness: Some Universals in Language Usage (1987). Brown dan Levinson membagi face menjadi dua komponen dasar: negative face, yaitu keinginan individu untuk bebas dari gangguan dan tidak diganggu oleh orang lain, serta positive face, yaitu keinginan untuk dihargai, disetujui, dan diinginkan oleh orang lain. Setiap tindak tutur, seperti perintah, permintaan, kritik, atau bahkan pujian, dianalisis sebagai Face-Threatening Act (FTA) atau tindakan yang berpotensi mengancam salah satu atau kedua jenis face tersebut. Untuk memitigasi ancaman ini, penutur dapat menggunakan strategi kesantunan, mulai dari yang paling langsung (bald on-record) hingga yang paling tidak langsung dan sopan (off-record), dengan mempertimbangkan tiga variabel sosiologis utama: jarak sosial, relasi kekuasaan, dan peringkat beban tindakan (Brown & Levinson, 1987).
Meskipun sangat dominan, pendekatan Brown dan Levinson tidak luput dari kritik, terutama karena sifatnya yang terlalu individualistis dan berorientasi pada penutur, serta menganggap strategi kesantunan bersifat universal tanpa mempertimbangkan konteks budaya yang beragam. Kritik ini memicu perkembangan pendekatan alternatif yang lebih menekankan pada dimensi relasional dan diskursif dari face. Locher dan Watts (2005), misalnya, mengusulkan konsep relational work, yang merujuk pada seluruh upaya yang dilakukan individu untuk menegosiasikan hubungan antarpribadi dalam interaksi. Berbeda dengan Brown dan Levinson yang cenderung melihat face sebagai sesuatu yang statis dan dimiliki individu, Locher dan Watts memandang face sebagai sesuatu yang dinamis, muncul, dan dinegosiasikan secara bersama-sama dalam proses interaksi sosial (Locher & Watts, 2005).
Dalam perspektif Locher dan Watts, face bukanlah sesuatu yang 'dimiliki' melainkan sesuatu yang 'dilakukan' dan 'dicapai' melalui praktik diskursif. Konsep relational work mencakup spektrum perilaku yang luas, mulai dari tindakan yang sangat sopan (polite), tindakan yang netral atau sesuai norma (appropriate), hingga tindakan yang dianggap kurang sopan atau bahkan kasar (impolite). Penilaian terhadap suatu tindakan sebagai sopan atau tidak sangat bergantung pada konteks situasional dan ekspektasi sosial yang berlaku dalam komunitas tutur tertentu. Dengan demikian, Locher dan Watts menolak pandangan bahwa ada strategi universal untuk bersikap sopan, dan sebaliknya menekankan bahwa kesantunan adalah konsep yang bersifat emik, yaitu dinilai dari sudut pandang partisipan interaksi itu sendiri.
Perbedaan mendasar antara kedua pendekatan ini terletak pada ontologi dan fokus analisisnya. Brown dan Levinson (1987) lebih berfokus pada strategi linguistik individual yang digunakan penutur untuk mengelola face sendiri dan orang lain, dengan asumsi bahwa manusia pada dasarnya rasional dan memiliki keinginan universal akan otonomi dan penerimaan sosial. Sebaliknya, Locher dan Watts (2005) beralih dari pendekatan kognitif-individual menuju pendekatan sosio-interaksional, yang melihat face sebagai produk negosiasi kolektif dalam rangkaian percakapan yang lebih panjang. Mereka berargumen bahwa makna kesantunan tidak dapat ditentukan hanya dari bentuk ujaran, melainkan harus ditafsirkan dari bagaimana ujaran tersebut diterima, ditanggapi, dan dinegosiasikan oleh peserta tutur dalam konteks alami.
Integrasi kedua perspektif ini menawarkan pemahaman yang lebih holistik tentang fenomena face dalam komunikasi sehari-hari. Di satu sisi, kerangka Brown dan Levinson sangat berguna sebagai alat analisis awal untuk mengidentifikasi potensi ancaman dan strategi kebahasaan yang mungkin digunakan, terutama dalam percakapan formal atau transaksional. Di sisi lain, pendekatan Locher dan Watts memungkinkan peneliti untuk menangkap nuansa dinamis dan kompleksitas hubungan interpersonal yang terus berubah, misalnya dalam percakapan kasual, konflik, atau komunikasi digital yang sarat dengan norma-norma baru. Dengan memadukan keduanya, kita dapat menganalisis tidak hanya apa yang dikatakan untuk menyelamatkan muka, tetapi juga bagaimana tindakan tersebut ditafsirkan dan dinegosiasikan oleh para pihak yang terlibat.
Sebagai kesimpulan, konsep face tetap menjadi instrumen analitis yang tak tergantikan dalam studi bahasa dan interaksi sosial, dengan Brown dan Levinson serta Locher dan Watts menyumbangkan dua arus pemikiran yang saling melengkapi. Brown dan Levinson memberikan perangkat taksonomis yang jelas dan sistematis, sementara Locher dan Watts menyumbangkan kesadaran kritis akan pentingnya konteks, dinamika relasional, dan agensi kolektif dalam pembentukan makna sosial. Keduanya mengingatkan kita bahwa di balik setiap ujaran, terdapat pertaruhan sosial yang kompleks terkait harga diri, identitas, dan hubungan kekuasaan. Dengan demikian, memahami face berarti memahami inti dari bagaimana manusia menjadi makhluk sosial yang senantiasa bernegosiasi untuk mempertahankan eksistensi dan keterhubungannya dengan orang lain melalui bahasa.
Daftar Pustaka
Brown, P., & Levinson, S. C. (1987). Politeness: Some universals in language usage. Cambridge University Press.
Goffman, E. (1967). Interaction ritual: Essays on face-to-face behavior. Doubleday.
Locher, M. A., & Watts, R. J. (2005). Politeness theory and relational work. Journal of Politeness Research, 1(1), 9-33.

Informasi yang sangat menarik. Akan lebih bagus jika anda juga membaca lagu Endank Soskamti terpopuler pada saat ini.
BalasHapus